Terkini Nasional

Tersangka Aksi 21 Mei Dibayar 150 Juta untuk Upaya Pembunuhan Pejabat dan Pimpinan Lembaga Survei

M. Iqbal memberikan keterangan soal aksi yang terjadi pada 21 dan 22 Mei di mana tersangka diminta untuk membunuh pejabat dan pimpinan lembaga survei.

Tersangka Aksi 21 Mei Dibayar 150 Juta untuk Upaya Pembunuhan Pejabat dan Pimpinan Lembaga Survei
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Mohammad Iqbal 

"IPW menganalisa bahwa kerusuhan 21 Mei dan 22 Mei, kerusuhan terbatas, dan sangat terkoordinir, kalau kita lihat sasaran 1998 itu pusat ekonomi, kemarin Tanah Abang itu tidak tersentuh sama sekali," jelas Neta S Pane.

"Kalau memang itu benar-benar kerusuhan, itu pasti sudah dibakar massa, kemarin massa hanya membakar tong sampah dan warung-warung yang kecil di pinggir jalan," tambahnya.

"Melihat karakter yang kemarin itu, itu memang diciptakan hanya terbatas sampai tanggal 22 Mei malam."

 Polisi Sebut Tak Ada Partai yang Terkoneksi dengan Tersangka yang Incar Bunuh Pejabat

 

Kronologi Kerusuhan Massa 22 Mei

Dikutip dari channel YouTube Kompas TV, Rabu (22/5/2019), sejumlah massa pendemo memenuhi ruas jalan sekitar kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk memprotes kecurangan yang ada dalam Pemilu 2019.

"Sekitar jam 14.00 WIB dimulai (demo), kemudian saat hampir selesai jam 18.00 WIB, dari pengunjuk rasa bernegosiasi dengan pihak kepolisian," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono.

"Jadi kepengen melaksanakan buka puasa kemudian salat magrib dan tarawih di sana." jelas Argo.

Setelah melakukan negosiasi tersebut, massa pertama bisa dibubarkan sekitar pukul 20.30 WIB.

"Jadi kita sepakat, tapi setelah kegiatan tarawih, harus segera kembali," kata Argo.

"Jadi sekitar setengah sembilan lah, itu massa itu persiapan untuk bubar dan jam sembilan sudah bubar dengan aman dan lancar."

Namun setelah massa pertama yang selesai dengan aman dan damai, ada massa kedua yang kemudian menimbulkan kericuhan.

 Mahfud MD Akui Pernah Dituding sebagai Mahkamah Kalkulator: Dituding Diatur oleh Presiden SBY

Demonstran terlibat bentrok dengan polisi saat menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019.
Demonstran terlibat bentrok dengan polisi saat menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Massa kedua tersebut memaksa masuk ke Bawaslu namun digagalkan oleh kepolisian.

"Tiba-tiba pada pukul 23.00 WIB, tiba-tiba ada sekelompok massa yang tiba-tiba datang ke Bawaslu dan dia memaksa untuk masuk ke Bawaslu," jelas Argo.

"Tetapi tidak boleh dari petugas kepolisian dan TNI di sana, kita tidak memperbolehkan sehingga terjadi dorong-mendorong kemudian dari massa itu melakukan lemparan ke petugas di situ," tambahnya.

Kepolisian berhasil mengamankan massa kedua tersebut dan didorong menuju Tanah Abang.

"Berhasil kita dorong sampai ke Tanah Abang kemudian kita bubarkan," jelas Argo.

Dijelaskan pula oleh Argo, saat massa kedua membuat kericuhan, ada pula insiden pembakaran mobil di sekitar Asrama Brimob.

"Kemudian sisi lain juga ternyata di Petamburan ada pembakaran mobil jadi lokasinya di depan asrama, jadi di depan asrama ada beberapa mobil yang terparkir dan kemudian dibakar, ini masih kita dalami kita selidiki," tegasnya.

(TribunWow.com/Tiffany Marantika/Nila)

WOW TODAY:

Ikuti kami di
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Ekarista Rahmawati Putri
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved