Terkini Internasional

Cerita Agus Wandi, Staf UN Asal Aceh yang Lolos dari Kecelakaan Pesawat Ethiopian Airlines

Agus Wandi menjadi satu orang yang berhasil lolos dari kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines ET 302, dirinya batal menaiki pesawat itu.

Cerita Agus Wandi, Staf UN Asal Aceh yang Lolos dari Kecelakaan Pesawat Ethiopian Airlines
SERAMBINEWS.COM/FACEBOOK AGUS WANDI
Aguswandi bersama rekannya 

TRIBUNWOW.COM - Tak ada kata yang bisa diungkapkan Agus Wandi selain rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah menentukan takdir atasnya.

Rasa syukur itu tidaklah berlebihan diungkapkan putra asal Aceh ini saat mengetahui pesawat Ethiopian Airlines mengalami kecelakaan saat dalam penerbangan dari Addis Ababa Etiopia ke Nairobi, Kenya.

Seperti diketahui pesawat Ethiopian Airlines ET 302 jatuh pada Minggu, 10 Maret 2019 sekitar pukul 08.44 waktu setempat.

Ethiopian Airlines Jatuh, CAAS Larang Semua Varian Boeing 737 MAX Lintasi Wilayah Udara Singapura

Sebanyak 149 penumpang dan 8 awak pesawat tewas.

Menurut Departemen Keamanan dan Keselamatan PBB di Kenya, total sebanyak 19 staf PBB meninggal dalam musibah jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET 302.

Dari jumlah itu, staf PBB di WFP kehilangan terbanyak dengan total 7 orang tewas.

PBB juga kehilangan staf dari UNHCR, International Telecommunications Union (ITU), The Food and Agriculture Organization (FAO), International Organization for Migration (IOM) di Sudan, Bank Dunia dan Misi Bantuan Khusus PBB di Somalia (UNSOM) dan enam staf dari kantor PBB di Nairobi (UNON).

Seyogyanya Agus Wandi yang merupakan staf PBB di UNDP akan menumpang pesawat Ethiopian Airlines ET 302 yang naas tersebut dengan jadwal penerbangan pagi waktu setempat.

Namun takdir menentukan lain. Agus Wandi mendapat kabar, jadwal keberangkatannya justru digeser untuk penerbangan pada malam hari dengan pesawat yang sama.

Namun Agus tak menjelaskan alasan pergeseran tersebut.

Akan tetapi perubahan jadwal terbang tersebut telah menyelamatkannya dari musibah.

Agus Wandi akhirnya bisa berangkat ke Nairobi pada malam hari setelah kabar pesawat Ethiopian Airlines ET 302 jatuh pada pagi harinya.

"Kembali ke bandara di Addis Ababa, utk terbang ke Nairobi dan selanjutnya Freetown malam ini. Masih terus bersyukur tdk terbang dg pesawat pagi dan dipindahkan ke pesawat malam," tulis Agus Wandi di akun Facebook-nya pada 10 Maret seperti dikutip Serambinews.com.

Rencana keberangkatan Agus ke Nairobi pada hari pesawat naas sempat membuat rekan-rekannya khawatir.

Namun bersyukur ia ungkapkan, dirinya masih diberi keselamatan dan terhindar dari musibah tersebut.

Kolase Serambinews.com
Kolase Serambinews.com (SERAMBINEWS.COM/Facebook Agus Wandi)

"Di bandara airport saya dikunjungi dua teman lama dari EU dan UN security yg mendatangi karena menyangka saya di pesawat yg naas. 19 staff UN ada di pesawat tsb," tulis Agus Wandi lebih lanjut di akun Facebook-nya.

Kini Agus Wandi telah berada kembali di Freetown, ibukota sekaligus kota terbesar di Sierra Leone.

Hal tersebut tampak dari postingan terbaru di akun Facebook-nya pada 12 Maret 2019.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada rekan dan sahabat yang telah mendoakan keselamatannya.

Saat ini Agus Wandi saat i ini bekerja di United Nation Development Program (UNDP) sebuah organisasi yang bernaung di bawah PBB.

Agus menjabat sebagai chief technical spesialist crisis prevention and mitigation dan tinggal di Freetown, ibukota Republik Sierra Leone, sebuah negara di Afrika Barat.

Sebelumnya pada 12 Januari 2019 lalu Agus Wandi berhasil mencapai Antartika.

Pengakuan Saksi Mata soal Tragedi Ethiopian Airlines, Ada Asap dan Suara Aneh sebelum Pesawat Jatuh

Boleh dibilang, Agus Wandi adalah anak Aceh pertama yang berhasil menyentuh Antartika, dan ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya, di samping menjadi motivasi bagi generasi muda Aceh melakukan hal yang sama.

Agus Wandi menuturkan ia bersama tim ekspedisi tiba di kota Ushuaia Argentina pada 2 Januari lalu.

Ushuaia merupakan kota terakhir dan terdekat dengan Benua Antartika.

"Mudah2an cuaca akan membaik agar kapal ekspedisi melewati Drake Passage dengan mudah besok malam. Katanya salah satu selat laut yg cukup berbahaya, tapi mudah2an aman," tulis Agus seperti dikutip Serambinews.com dari laman facebooknya.

Menurut Agus, Antartika saat ini menjadi pusat penelitian ilmuwan dari 40 negara.

"Mereka melakukan penelitian tentang alam dan rahasia2nya, termasuk dampak thd cuaca dunia," tulisnya.

Pada 12 Januari, Agus bersama tim ekspedisi berhasil mencapai Antartika.

Dari foto-foto yang terposting di akun Facebook-nya, tampak permukaan jalan yang dilalui tim ditutupi hamparan es tebal.

Dikutip dari situs Mogabay, Antartika merupakan benua paling terpencil di dunia yang kontradiktif. Sangat cantik dan perawan, namun amat tidak bersahabat.

Inilah tempat yang paling berbadai dan paling dingin di bumi, sekaligus paling rapuh dan sensitif.

Curah hujannya paling rendah dibandingkan dengan benua mana pun, namun esnya memuat 70 persen air tawar di planet ini.

Dengan ketebalan rata-rata sekitar 2.200 meter, es tersebut menjadikan Antartika sebagai benua tertinggi di dunia, dengan ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut.

Benua ini juga merupakan benua kelima terbesar di dunia. Namun begitu, Antartika tidak memiliki penduduk tetap yang lebih besar dari koloni lamuk, sejenis lalat berukuran satu sentimeter.

Antartika juga memiliki seluruh zona waktu yang ada di bumi. Semua garis bujur yang gunakan penduduk bumi untuk menentukan zona waktu bertemu di kedua kutub, Utara dan Selatan.

Keberhasilan Agus mendaki Antartika membuat warga net kagum dan salut kepada sosok lelaki ramah dan tampan itu.

Bahkan ada yang menyebut Agus adalah orang Aceh pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Benua Antartika.

Lantas siapakah Agus Wandi sebenarnya? Lelaki kelahiran 17 Agustus 1978 di Sibreh, Kabupaten Aceh Besar ini, telah melanglang buana ke berbagai belahan negara di dunia.

Prestasi yang paling membanggakan ia adalah salah satu aktivis yang berhasil masuk dan berkarier di markas United Nation (UN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menempati posisi mentereng di United Nation Development Program (UNDP) sebuah organisasi yang bernaung di bawah PBB.

Bersama Menteri Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Sierra Leone.
Bersama Menteri Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Sierra Leone. (SERAMBINEWS.COM/Facebook Agus Wandi)

Saat ini Agus menjabat sebagai chief technical spesialist crisis prevention and mitigation dan tinggal di Freetown, ibukota Republik Sierra Leone, sebuah negara di Afrika Barat.

Sebelumnya Agus pernah bertugas di Kepulauan Solomon sebagai spesialis kohesi sosial.
Kepulauan Salomo adalah sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan yang terletak di sebelah timur Papua Nugini dan merupakan bagian dari Persemakmuran.

Diburu TNI

Sosok Agus Wandi di kalangan aktivis 98 di Aceh dikenal sebagai aktivis antimiliter.

Ia adalah pentolan sekaligus pendiri gerakan perlawanan rakyat Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR), sebuah gerakan mahasiswa di Aceh yang menuntut pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) dan melengserkan rezim Suharto.

Aktivis SMUR kerap turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi.

Agus Wandi ikut bergabung dalam aksi itu sebagai orator yang membuat kuping pejabat TNI/Polri di bawah rezim Suharto merah dan berdengung.

Akibat tindakannya yang kerap menentang dan menyuarakan ketidakadilan pemerintah terhadap Aceh, Agus Wandi pernah dicap sebagai musuh negara nomor satu oleh Danrem 012 Teuku Umar, Syarifuddin Tipe.

Tindakannya yang paling menghebohkan adalah ketika ia menginterupsi Mendagri Syarwan Hamid dalam pidato resminya di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh.

Kala itu Syarwan tergagap. Dia pun harus mengubah haluan bicaranya, sebagaimana maksud interupsi Agus Wandi, bahwa di Aceh telah terjadi kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat oleh negara.

Karena itu pula negara harus bertanggung jawab.

Dalam tulisannya, "Mengenang SMUR, Mengingat Agus Wandi", pemerhati sosial politik Aceh M Alkaf menyebutkan Agus Wandi adalah aktivis Aceh yang menyuarakan perlawanan rakyat paling populer kala itu.

“Agus Wandi bahkan menjadi semacam jaminan atas aktivisme mahasiswa kala itu. Posisinya sebagai Sekjend SMUR, yang juga kemudian diposisikan sebagai juru bicara setiap aksi dari lembaga tersebut, bahkan membuatnya populer sekali," kata Alkaf, peneliti dari lembaga The Aceh Institute.

Pasca dianggap sebagai musuh negara, Agus Wandi menjadi aktivis paling diburu aparat TNI/Polri.

Sejak itu ia harus bersembunyi dari kejaran aparat bersama aktivis SMUR lainnya.

Termasuk rekan seperjuangannya, Kautsar, pentolan SMUR yang sekarang menjadi anggota DPRA dari Partai Aceh.

Tetapi Kautsar kemudian memilih menghilang ke pedalaman hutan Aceh, bahkan disebut-sebut bersembunyi di markas GAM.

157 Orang Tewas dalam Jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines, Jenis Pesawat Sama dengan Lion Air JT 610

Anak Muda Progresif

Pasca Pemerintah RI dan GAM berdamai, nama Agus Wandi kembali muncul sebagai sosok anak muda Aceh progresif yang menghendaki perubahan.

Ia bersama Thamren Ananda, Rahmat Djailani, Raihan Diani dan beberapa aktivis SMUR lainnya mendirikan Partai Rakyat Aceh (PRA) sebagai sebuah partai lokal.

Pada pemilu legislatif 2009, PRA kurang mendapat sambutan rakyat, sehingga kurang diperhitungkan dalam peroleh kursi.

Para pentolan PRA kemudian ada yang hengkang dan masuk menjadi pengurus Partai Nasional Aceh (PNA), partai lokal besutan Irwandi Yusuf.

Sedangkan Agus Wandi memilih berkarier di jalur lain.

Di sela kesibukannya sekitar tahun 2008, ia menerbitkan buku berjudul "9 Langkah Memajukan Diri dan Aceh."

Sejak saat itu, nama Agus Wandi seperti hilang ditelan bumi dari lingkaran gerakan aktivis Aceh.

Lama tak terdengar kabar, ternyata anak petani asal Sibreh, Aceh Besar ini memilih berkarier di luar negeri.

Ia menjadi relawan di UNDP, sebuah organisasi di bawah PBB, dengan jabatan saat ini sebagai chief technical spesialist crisis prevention and mitigation dan tinggal di Freetown, ibukota Republik Sierra Leone, sebuah negara di Afrika Barat.

Untuk ukuran seorang pemuda Aceh, Agus Wandi adalah sosok yang brilian.

Ia fasih berbahasa Inggris dan memiliki latar belakang pengetahuan sosial politik yang mumpuni, terutama tentang isu HAM, perdamaian, keamanan dan politik global.

Ia juga hobi membaca buku penulis berkelas.

Agus sangat mengimpikan agar anak muda Aceh kelak memiliki keterampilan berbahasa Inggris yang baik agar menjadi generasi yang diperhitungkan dalam segala bidang.

"Dengan menambah (porsi) Bahasa Inggris di sekolah dan universitas, Aceh bisa menang satu langkah dibanding lulusan sekolah tempat lain di Indonesia. Seperti tamatan Malaysia, Singapura atau Filipina yang mampu bersaing di tempat kerja regional dan internasional, hanya karena menang bahasa," tulis Agus Wandi seperti yang dikutip Serambinews.com di laman Facebook-nya.

Meskipun berkenala jauh dari kampung halamannya, Aceh, Agus Wandi berharap kelak masa depan terbaik untuk Aceh akan terwujud.

"Semoga 2019 dunia lebih damai dan semua saling bekerja sama menyelamatkan bumi, menjaga alam, membantu perdamaian, pengungsi, penyelesaian konflik2, dan membangun politik yg tdk memecah belah tapi menyatukan di Aceh, Indonesia dan dunia," ujarnya. (*)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Batal Terbang, Agus Wandi Staf UN Asal Aceh Selamat dari Kecelakaan Pesawat Ethiopian Airlines

Ikuti kami di
Editor: Rekarinta Vintoko
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved