Terkini Daerah

5 Fakta Longsor di Sukabumi, Kronologi, Cerita Saksi hingga Update Korban 19 Orang Belum DItemukan

Berikut TribunWow.com rangkum sejumlah fakta mengenai kronologi longsor terjadi hingga update dan upaya evakuasi.

5 Fakta Longsor di Sukabumi, Kronologi, Cerita Saksi hingga Update Korban 19 Orang Belum DItemukan
press rilis Sutopo Purwo Nugroho
Tim SAR gabungan saat evakuasi korban bencana di Sukabumi, Jawa Barat. 

TRIBUNWOW.COM - Kampung Cigarehong, Dusun Cimapag, Desa Sirnasari, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Senin (31/12/2018) dilanda bencana longsor sekitar pukul 17.00 WIB.

Beredar video amatir bagaimana kepanikan warga yang menyaksikan longsor terjadi.

Puluhan rumah tertimbun, dan juga puluhan warga dikabarkan meninggal dan masih hilang.

Berikut TribunWow.com rangkum sejumlah fakta mengenai kronologi longsor terjadi hingga update dan upaya evakuasi.

1. Longsor Pukul 17.30 WIB Menjelang Tahun Baru

Informasi adanya longsor dibagikan oleh sejumlah akun Facebook relawan bencana di media sosial.

"Innalillahi...Baru saja mendapatkan informasi Pada hari Senin 31 Desember 2018 Pukul 17.30 Wib bertempat di Kampung Cimapag Desa Sinaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi telah terjadi bencana alam tanah longsor yang mengakibatkan 25 rumah warga tertimbun material longsoran.

Tim SAR dan BPBD saat ini masih melakukan evakuasi korban yang tertimbun. Sementara jumlah korban belum bisa dipastikan, demikian informasi awal," tulis keterangan video tersebut.

Sementara akun lainnya juga mengabarkan informasi mengenai longsor tersebut.

"innalilahi. Terjadi bencana longsor di di kampung cimapag desa sinaresmi kec cisolok kabupaten sukabumi. Sebelum magrib sekitar 45 rumah tertutup longsoran. Evakuasi susah dilakukan karena keadaan gelap dan hujan."

Sejumlah Cerita Saksi Longsor di Sukabumi, Panik Selamatkan Orangtua hingga Dentuman saat Evakuasi

2. Cerita Saksi Mata

Diceritakan seorang saksi Suherman (31), bagaimana kepanikan ia bersama istrinya saat longsor menerjang, dikutip dari TribunJakarta.

Kala itu Suherman sedang menonton acara televisi, sementara istrinya mengaku mendengar gemuruh dari atas bukit.

Suherman mengaku tak menduga itu adalah longsor dan mengira suara motor.

"Istri saya sempat mendengar seperti ada suara gemuruh dari atas bukit, tapi kami tak menduga itu suara tanah longsor. Saya bahkan sempat bilang pada istri saya bahwa itu mungkin suara motor," kata Suherman, Senin (1/1/2019).

Saat ia mengecek keluar rumah, ia melihat material tanah seperti bergulung-gulung meluncur dari bukit dan sudah mengubur rumah tetangga yang lokasinya berada di atas rumahnya.

Suherman yang panik kemudian berteriak-teriak mengajak anak dan istrinya menyelamatkan diri.

Suherman yang tak memiliki kesempatan mencari tempat aman memilih segera ke belakang rumah.

Saat itu gemuruh semakin keras.

Deretan Foto dan Video Longsor yang Landa Daerah Cisolok Sukabumi Jelang Malam Tahun Baru

"Posisi rumah saya berada paling bawah. Kejadiannya sekitar pukul 18.00," kata Suherman, yang masih mengungsi di rumah kakaknya.

Beruntung ia dan keluarganya selamat.

Namun, melihat rumah kedua orangtuanya telah terkubur, segera ia kesana.

Saat itulah, ia melihat ibunya, Ronasih (54), yang sebagian tubuhnya tertimbun sedang berusaha keluar.

"Saya bersama warga lalu membawa ibu ke tempat yang lebih aman," katanya.

Ia kemudian mendengar suara sayup minta tolong yang ternyata ayahnya.

Posisi ayahnya, Aham (65), ketika itu, kata Suherman, terjepit reruntuhan rumah dan sangat sulit untuk dikeluarkan.

Warga bahkan harus membawa dongkrak untuk mengangkat kayu yang mengimpit kaki Aham hampir selama empat jam.

Aham yang menderita luka memar kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu, yang jaraknya sekitar 40 menit dari lokasi.

Tim SAR gabungan saat evakuasi korban bencana di Sukabumi, Jawa Barat.
Tim SAR gabungan saat evakuasi korban bencana di Sukabumi, Jawa Barat. (press rilis Sutopo Purwo Nugroho)

3. Penjelasan PVMBG Soal Penyebab

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani, mengungkapkan penyebab longsor dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (31/12/2019), dikutip dari TribunJakarta.

Kasbani menuturkan, gerakan tanah, yang terjadi di Kampung Cigarehong, Dusun Cimapag, Desa Sirnasari, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi adalah jenis gerakan tanah, yang diperkirakan berupa longsoran rombakan.

Kasbani memperkirakan, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di wilayah tersebut, yakni karena hujan dengan intensitas tinggi yang turun sebelum kejadian gerakan tanah, kemiringan lereng terjal, dan material penyusun lereng yang bersifat poros dan mudah menyerap air.

Menurut Kasbani, morfologi daerah bencana perbukitan dengan kemiringan lereng terjal hingga sangat terjal.

"Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 650-800 meter diatas permukaan laut. Disebelahnya terdapat alur sungai kecil," ujarnya.

Anies Ingin Program Nikah Massal Jadi Tradisi Pergantian Tahun, Bangun Masyarakat Baik dari Rumah

Ia mengungkapkan berdasarkan Peta Geologi Lembar Sukabumi, Jawa Barat, daerah bencana disusun oleh satuan breksi tapos, breksi gunungapi, dan aglomerate.

Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, bulan Desember 2018 (PVMBG), daerah bencana sebagian besar masuk ke dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah-tinggi.

"Artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali," katanya.

4. Kendala Tim Evakuasi

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan dalam proses evakuasi Tim SAR gabungan mengalami kendala, dikutip dari Tribunnews.

Yakn kendala pada medan yang sempit untuk mengevakuasi dan mencari korban yang tertimbun tanah longsor.

Pada proses evakuasi ini, dilakukan oleh Tim Gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, Relawan, dan masyarakat

"Tiga alat berat disiapkan membantu evakuasi namun kendala menuju tempat terkendala jalan sempit, medan berbukit sehingga kesulitan," kata Sutopo dalam keterangannya yang diterima pada Selasa siang (1/1/2019).

Longsoran Erupsi Anak Gunung Krakatau Seluas Lapangan Bola, Diduga Jadi Penyebab Tsunami

Lanjutnya, ia mengatakan akses yang sempit menyulitkan akat berat untuk masuk.

Kendala lain, adanya longsor kecil susulan maupun sulitnya komunikasi.

"Sementara itu longsor susulan kecil masih terjadi demikian juga hambatan yang lain, komunikasi masih sulit, listrik masih padam, cuaca juga menghambat dalam pencarian korban," ujar Sutopo.

5. Update Korban

Dalam bencana itu, sebanyak 30 rumah yang dihuni 101 warga terkubur.

Selasa (1/1/2019) sore, sebanyak 16 jenazah korban tewas ditemukan dan 19 lainnya masih hilang, dikutip dari Kompas.com.

"Hingga tadi siang (kemarin), kami kembali menemukan 14 korban dalam kondisi meninggal dunia, hari sebelumnya dua," kata Danrem 061 Suryakencana, Kolonel Muhammad Hasan, seperti dikutip dari Tribun Jabar.

Hasan memaparkan, sebanyak 16 orang korban meninggal dunia karena tertimbun.

Sementara, berdasarkan hasil pendataan detail di lapangan, terdapat total 35 orang korban yang terindikasi tertimbun tanah.

Dengan penemuan 16 jenazah korban tertimbun tanah longsor, saat ini masih ada 19 orang lagi yang akan terus dicari.

"Perlu kami sampaikan, sempat ada kesimpangsiuran data. Jumlah warga yang berada di kampung itu sebanyak 101 jiwa. Terus ada satu orang bayi yang meninggal di rumah sakit. Jadi datanya sebanyak 16 korban yang sudah ditemukan termasuk bayi yang meninggal di rumah sakit," jelas Kolonel Muhammad Hasan.

Informasi yang didapat, nama korban yang sudah teridentifikasi adala Hendra, Sasa, Ukri, Riska, Ahudi, Rita, dan Yanti.

"Sisanya nanti yang belum teridentifikasi kami akan bawa ke DVI untuk diidentifikasi," katanya.

Proses pencarian korban longsong di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, akan kembali dimulai pada Rabu (2/1/2019) pagi. (TribunWow.com/ Roifah Dzatu Azmah)

Ikuti kami di
Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved