Breaking News:

Gejolak Rupiah

Rupiah Merosot Rp 15.267 per Dolar AS, Analis Global Ramal Bisa Lanjut Melemah hingga Rp 15.500

Julius Baer Group Ltd memperkirakan nilai tukar rupiah masih terus merosot hingga mencapai Rp 15.500 per dolar AS di tahun 2018.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS 

TRIBUNWOW.COM - Analis global memperkirakan mata uang Indonesia masih dapat merosot lagi.

Dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Kamis (11/10/2018), Julius Baer Group Ltd memperkirakan nilai tukar rupiah masih bisa terus merosot hingga mencapai Rp 15.500 per dolar AS di tahun 2018.

Dikutip dari Bloomberg pada Kamis (11/10/2018) pukul 14.25 WIB, nilai rupiah telah mencapai angka Rp 15.267 per dolar AS.

Jusuf Kalla Sebut Penyebab Melemahnya Rupiah Ada Faktor dari Dalam, Jansen Sitindaon: Ini Baru Bijak

Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 15.267 pada Kamis (11/10/2018) pukul 14.25 WIB.
Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 15.267 pada Kamis (11/10/2018) pukul 14.25 WIB. (Capture Bloomberg)

Pelemahan mata uang yang terjadi di Indonesia ini dipicu ketidakpastian ekonomi dan konflik dagang AS-China.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga turut andil dalam pelemahan rupiah.

Jusuf Kalla Sebut Penyebab Melemahnya Rupiah Ada Faktor dari Dalam, Jansen Sitindaon: Ini Baru Bijak

"Kendati bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia melakukan tindakan proaktif, rupiah tetap tertekan karena mengetatnya likuiditas global akibat kenaikan bunga dan konflik dagang yang makin intensif," ujar Kepala Penelitian Julius Baer untuk Asia di Singapura Magdalene Teo, Kamis (11/10/2018).

Kenaikan harga minyak mentah akan semakin membebani defisit neraca berjalan serta kurs rupiah.

Bank Indonesia masih terus berusaha untuk menyelamatkan rupiah dengan menaikkan bunga lima kali sejak Mei lalu untuk menjaga kepercayaan pasar.

"Jika rupiah jatuh ke 15.500, yield obligasi bisa naik ke 9%," kata Magdalene.

Selain rupiah, nilai tukar di kawasan Asia juga turut mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Sementara itu, dolar berada di posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

IMF Berpendapat Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Tak Perlu Dikhawatirkan Secara Berlebih

Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia.

Selain itu, sentimen ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS oleh The Federal Reserves di bulan Desember masih membayangi rupiah walaupun Presiden AS, Donald Trump, mengkritik kebijakan tersebut.

Di sisi lain, belum ada sentimen positif dari dalam negeri yang bisa menopang pergerakan rupiah.

Justru para pelaku pasar sempat dilanda kekhawatiran akibat ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minya  (BBM) oleh pemerintah. (TribunWow.com/Mutmainah)

Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved