Gejolak Rupiah
Media Asing Soroti Perekonomian Indonesia, Dahnil Anzar dan Rachland Nashidik Beri Tanggapan
Media asing menuliskan kondisi ekonomi Indonesia dengan judul 'Rupiah berada di titik perekonomian terendah di Asia, Mengapa sangat tenang, Indonesia?
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Media asing, scmp.com, menuliskan soal kondisi ekonomi Indonesia.
Headline berita yang mereka gunakan adalah 'Rupiah berada di titik perekonomian terendah di Asia, Mengapa sangat tenang, Indonesia?'.
Menanggapi berita tersebut, koordinator juru bicara tim pemenangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, memberikan tanggapan.
Hal ini diungkapkan Dahnil Anzar melalui Twitter miliknya, @DahnilAnzar, pada Sabtu (6/10/2018).
• Kecolongan meski Sempat Bertemu Ratna Sarumpaet, Hanum Rais: Saya Dokter Gigi
Dengan mentautkan berita tersebut, Dahnil pun turut mempertanyakan sikap Indonesia dalam menghadapi krisis tersebut.
"Media-media Internasional pun bertanya-tanya," tulis Dahnil Anzar.
Senada dengan Dahnil Anzar, Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik juga mempertanyakan hal yang sama.
"Why so calm, Mr Presiden?," kicau Rachland Nashidik melalui Twitter miliknya, @RachlandNashidik.
(Mengapa begitu tenang Pak Presiden?)
• Kubu Jokowi Minta Lawan Tak Politisasi Isu Ekonomi, Wasekjen PAN: Kita Diskusi Nama Ikan Saja
Sementara itu, dilansir TribunWow.com dari SCMP (South China Morning Post), Sabtu (6/10/2018), Indonesia yang merupakan negara berkembang disebut rentan terhadap ketidakpastian dan turbulensi yang dipicu perang dagang di AS.
SCMP juga menyoroti wisatawan Indonesia yang kecewa karena nilai tukar dolar AS yang tinggi sehingga mereka tidak bisa berpergian ke luar negeri.
Kendati demikian, harga makanan pokok, ayam, telur, bawang dan cabai, dilaporkan mengalami penurunan.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan jika krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak bisa disamakan saat krisis 1998.
"Dasar perekonomian saat ini baik-baik saja," ujar Perry ketika ditanya soal kemerosotan nilai tukar rupiah.
"Mengapa Anda terus mengatakan itu (penurunan nilai tukar rupiah) yang terendah sejak krisis Asia? Anda membuat Indonesia terdengar seperti sedang kacau," ujar Perry pada This Week In Asia seperti yang dikutip dari SCMP.
Perry juga membandingkan ekonomi Indonesia saat ini dengan jatuhnya rupee di India, Turki, serta beberapa negara di Afrika Selatan.
• Menko Perekonomian Ungkap Penyebab Rupiah Melemah
Gubernur BI itu optimis keadaan ekonomi Indonesia akan kembali stabil sebelum pertemuan IMF-World Bank digelar Bali.
"Kami ingin memunculkan kesan bahwa Indonesia adalah negara yang tangguh dan memiliki ekonomi yang progresif," tambahnya.
Meski Gubernur BI optimis dengan situasi ekonomi Indonesia, menurut SCMP, ada tanda-tanda ketegangan di beberapa bagian ekonomi.
Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di kawasan ini yang mengalami defisit neraca berjalan.
Kenaikan harga minyak global juga diperkirakan akan berdampak pada keuangan Indonesia.
Sementara itu, bisnis yang mengandalkan impor produk dan bahan asing, seperti industri makanan dan minuman, diminta untuk menanggung tekanan biaya yang meningkat tanpa menaikkan harga.
"Keuntungan hotel dan bisnis lainnya akan menderita, namun mereka tidak bisa menaikkan harga ke konsumen," ujar Matt Gebbie, konsultan pariwisata Howarth HTL di Jakarta.
Hal ini dikarenakan pasar domestik sangat sensitif dengan kenaikan harga.
• Tim Jokowi Sebut Isu Ekonomi Dijadikan Alat Politik Kubu Oposisi, Hinca Panjaitan Beri Tanggapan
Laporan SCMP menyebut kebiasaan orang Indonesia adalah memilih tempat lain jika dibandingkan harus membayar mahal.
Selain bidang pariwisata, bidang penerbangan juga turut menanggung dampak pelemahan rupian.
Maskapai penerbangan juga menanggung efek ganda dari pelemahan rupiah serta kenaikan biaya bahan bakar
SCMP juga menyoroti pemilihan presiden (pilpres) 2019.
Kubu Prabowo Subianto dianggap akan terus menggodok isu ekonomi untuk memberikan keraguan pada pemilih Joko Widodo (Jokowi).
Namun, Jokowi mungkin berharap dampak ekonomi ini bisa tertunda setidaknya hingga pilpres selesai, sehingga pemerintahannya tidak dituduh mengabaikan pelemahan rupiah. (TribunWow.com/Tiffany Marantika)