Gejolak Rupiah

Menguat Tipis, Rupiah Diprediksi Berada di Level Rp 14.600 per Dolar AS pada Akhir Tahun

Analis Garuda Berjangka, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan berada di level Rp 14.600 per dolar AS pada akhir tahun.

Menguat Tipis, Rupiah Diprediksi Berada di Level Rp 14.600 per Dolar AS pada Akhir Tahun
Tribunnews.com/Herudin
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS 

TRIBUNWOW.COM - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan setelah sebelumnya sempat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Kamis (27/9/2018), nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis 0,09 persen menjadi Rp 14.897 per dolar AS dari posisi kemarin.

Analis Garuda Berjangka, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan berada di level Rp 14.600 per dolar AS pada akhir tahun.

Hal ini lantaran bank sentral AS, Federal Reserve diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali.

"Dalam pernyataan semalam juga diberitahukan bahwa masih ada kemungkinan The Fed akan menaikan suku bunga empat kali," ujar Ibrahim.

Rupiah Kembali Melemah, Pengamat Jelaskan Perbedaan Gejolak Rupiah saat Ini dengan Krisis 1998

Adanya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, menurut Ibrahim, Bank Indonesia (BI) tidak perlu menikkan suku bunga.

"Kemungkinan tidak akan menaikan suku bunga, karena rupiah sudah menguat cukup tajam," jelas Ibrahim.

Ibrahim menyebut pasar global akan fokus pada perang dagang antara AS dengan China.

Penguatan nilai tukar ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Di kawasan Asia, hampir semua mata uang menguat terhadap dolar AS.

Hanya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang tercatat melemah tipis.

Dikutip dari situs resmi BI, berdasarkan kurs reverensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah berada di level Rp 14.911, menguat dari posisi kemarin Rp 14.938 per dolar AS.

Sedangkan berdasarkan kurs transaksi BI, rupiah mencapai Rp 14.994 per dolar AS pada kurs jual dan Rp 14.844 pada kurs beli.

Direktur Garuda Berjangka Sebut di Masa Kampanye Pemilu 2019, Rupiah akan Tertolong

Diberitakan sebelumnya oleh Kontan.co.id, Ibrahim menjelaskan penyebab nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

Menurut Ibrahim, nilai tukar rupiah melemah karena bank sentral AS akan mengumumkan putusan bunga acuan dan menyampaikan testimoni ekonomi.

Selain itu, isu perang dagang antara AS dengan China yang belum menemui titik terang turut menjadi pemicu rupiah melemah.

AS dan China masing-masing telah menerapkan tarif terbaru produk impor mereka.

China masih terus melawan AS dengan mengundang duta besar AS guna memberikan nota keberatan terkait tarif impor tambahan yang diberlakukan sebesar 267 miliar dolar AS.

“Karena tarif impor ini jika dilihat dari neraca perdagangan ekspor impor Amerika dan China seperti antara langit dan bumi, sehingga Amerika merasa dirugikan,” jelas Ibrahim.

Tekanan Global Mereda, Rupiah Kembali Bertenaga

Selain faktor eksternal, pelaku pasar global juga menunggu sikap dari Bank Indonesia (BI) dalam penentuan suku bunga acuan.

Setelah pengumuman suku bunga dari bank sentral AS, pasar berekspektasi BI akan menaikkan bunga sebesar 25 basis poin sebagai upaya mencegah nilai rupiah melemah. (TribunWow.com/ Qurrota Ayun)

Ikuti kami di
Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Astini Mega Sari
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved