Gejolak Rupiah

Bank Indonesia Harapkan Industri Berlabel Halal Menjadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Bank Indonesia memproyeksikan bisnis halal bisa membantu mengatasi masalah defisit transaksi berjalan Indonesia.

Bank Indonesia Harapkan Industri Berlabel Halal Menjadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Kompas.com/Robertus Belarminus
Ilustrasi Bank Indonesia 

TRIBUNWOW.COM -  Bank Indonesia (BI) menilai bisnis produk berlabel halal memiliki potensi pertumbuhan yang cukup besar.

BI juga memproyeksikan bisnis tersebut membantu mengatasi masalah defisit transaksi berjalan Indonesia, sebagaimana dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Senin (24/9/2018).

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Anwar Bashori menyebut industri produk berlabel halal diharapkan bisa menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, beberapa produk ekspor berlabel halal Indonesia terbukti sukses di luar negeri.

Sebagai contoh, Wardah menjadi produk kosmetik berlabel halal nomor tiga di Malaysia.

Soal Insiden Tewasnya Pendukung Persija, Jokowi Minta Kemenpora, PSSI, dan Suporter Duduk Bersama

Selain itu, Indomie juga dikenal di luar negeri seperti Afrika dan Arab Saudi sebagai produk berlabel halal Indonesia.

Anwar menuturkan, ada potensi bisnis berlebel halal bisa membantu menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan di Indonesia.

Namun menurut Anwar, masih ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan sebelum produk berlabel halal berperan membantu perekonomian.

Sementara itu, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar berharap Indonesia bisa dikenal sebagai produsen bisnis halal yang berpotensi di Indonesia.

Menurut Sapta, permasalahan halal di Indonesia disebabkan belum adanya integrasi bisnis halal dari hulu ke hilir.

Sapta menuturkan, secara global potensi bisnis produk berlabel halal adalah sebesar 3,08 triliun dolar Amerika Serikat (AS) di tahun 2022.

Bisnis terbesar, menurut Sapta adalah makanan berlabel halal, fashion, perjalanan halal, rekreasi halal, dan kosmetik halal.

Tragedi Pengeroyokan Suporter, Bareskrim Polri Imbau Masyarakat Tak Sebar Video Kekerasan

Diberitakan sebelumnya dari bi.go.id, Selasa (19/8/2018), Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyebut pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi upaya dalam memperkuat struktur perekonomian Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan nyata pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, BI merumuskan tiga pilar strategis utama.

Pertama, pemberdayaan dan penguatan ekonomi syariah melalui pengembangan rantai nilai halal.

BI akan mengembangkan ekosistem dari berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan untuk memperkuat struktur ekonomi.

Program ini dilaksanakan di 4 sektor utama, yakni makanan halal, pariwisata halal, sektor pertanian, dan energi terbarukan.

Kedua, pendalaman pasar keuangan syariah untuk mendukung pembiayaan syariah.

Ada Wacana Liga Indonesia Dihentikan, Gading Marten: Suporter Bunuh Orang yang Salah Bolanya?

Dalam pilar kedua ini, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan syariah.

Ketiga, memperkuat pendidikan ekonomi dan keuangan syariah untuk meningkatkan pengetahuan publik.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Fachri Sakti Nugroho
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved