Gejolak Rupiah

Donald Trump Umumkan Tarif Baru terhadap Impor China, IHSG Siap-siap Melemah

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan akan mengenakan tarif 10 persen terhadap impor China senilai 200 miliar dolar AS.

Donald Trump Umumkan Tarif Baru terhadap Impor China, IHSG Siap-siap Melemah
Tribunnews.com
Donald Trump 

TRIBUNWOW.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan akan mengenakan tarif 10 persen terhadap impor China senilai 200 miliar dolar AS.

Dikutip dari Reuters.com, Selasa (18/9/2018), dalam sebuah pernyataan, Trump mengumumkan tarif baru sebagai peringatan jika China melakukan tindakan balas dendam kepada petani atau industri AS.

"Kami akan segera mengejar fase ketiga, yaitu tarif sekitar $ 267 miliar impor tambahan," ujar Trump.

IHSG Bertahan di Zona Hijau hingga Penutupan Perdagangan

Pejabat Senior Pemerintah menyebut pengenaan tarif baru diperkirakan akan mulai berlaku pada 24 September 2018 dan akan meningkat hingga 25 persen pada akhir 2018.

Hal ini memungkinkan perusahaan AS menyesuaikan rantai pasokan ke negara-negara alternatif.

Terkait dengan kebijakan tarif impor baru dari AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan pelemahan perdagangan hari ini, Selasa (18/9/2018).

Analis Mega Capital Sekuritas Adrian M Priyatna menjelaskan, sentimen yang mempengaruhi pelemahan IHSG sebelumnya di antaranya Trump yang bersikukuh mempertahankan rencana pengenaan tarif impor terhadap barang-barang China senilai 200 miliar dolar AS, dikutip dari Kontan.co.id, Senin (17/9/2018).

Defisit Neraca Perdagangan Capai USD 1,02 Miliar, Sri Mulyani Sebut Impor Migas Jadi Biang Kerok

Untuk itu, Adrian memproyeksikan indeks saham akan melemah pada kisaran 5.780 hingga 5.860.

Diberitakan sebelumnya, IHSG melemah hingga 1,80 persen pada Senin (17/9/2018).

Kepala Riset BNI Sekuritas, Norico Gaman menjelaskan jika melemahnya indeks saham merespons defisit neraca perdagangan yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Norico menilai, kondisi tersebut apan berdampak pada defisit transaksi berjalan (CAD).

"Apabila CAD masih tinggi, maka dapat mempengaruhi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS," ujar Norico. (TribunWow.com/ Qurrota Ayun)

Ikuti kami di
Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Fachri Sakti Nugroho
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved