Breaking News:

Caroline Norton, Wanita Pertama di Dunia yang Menggugat Cerai

Caroline adalah kekuatan dibalik perubahan dari undang-undang 'Marriage and Divorce Act' atau undang-undang yang mengatur perceraian

Editor: Wulan Kurnia Putri
Mimbre
Caroline Norton 

TRIBUNWOW.COM - Berita gugatan cerai Basuki Tjahaja Purnama terhadap istrinya Veronica Tan menjadi buah bibir hanya dalam 1 hari.

Belum jelas asal muasalnya namun banyak pihak yang memastikan jika berita tersebut bukanlah hoax.

Jika berbicara tentang kasus perceraian, sebenarnya hal ini bukanlah fenomena yang baru.

Perceraian sudah jadi hal yang biasa yang disebabkan oleh berbagai faktor.

Baca Juga: Begini Keadaan Ahok Ketika Memutuskan Bercerai dengan Veronica Tan

Riset dari Stanford Universiy menyebutkan 69 perceraian di dunia terjadi karena tuntutan dari wanita.

Ironisnya, tingkat perceraian lebih tinggi justru terjadi pada karyawan wanita yang telah berusia 50 tahunan.

Jika dilihat dari sisi sejarah, wanita pertama yang meminta cerai di dunia ini adalah Caroline Norton.

Caroline adalah kekuatan dibalik perubahan dari undang-undang 'Marriage and Divorce Act' atau undang-undang yang mengatur perceraian 150 tahun yang lalu.

Baca Juga: Kebijakan Ahok soal Larangan Motor Dibatalkan Mahkamah Agung, Sesuai Keinginan Anies-Sandiaga

Wanita asal inggris ini mengalami penderitaan dan keputusasaan yang banyak dialami wanita menikah pada masa itu.

Caroline adalah seorang wanita yang menarik dan cerdas.

Dia juga merupakan cucu dari pengarang drama Richard Sheridan.

Caroline Norton memiliki nama asli Caroline Sheridan lahir di London pada tanggal 22 Maret 1808.

Baca Juga: 4 Misteri dan Fakta di Balik Garis Tangan yang Membentuk Huruf X, Bisa Ramalkan Nasib dan Karakter!

Caroline berasal dari keluarga miskin.

Ayahnya meninggal saat dia berusia 8 tahun dan meninggalkan keluarga dengan masalah keuangan yang serius.

Untuk memperbaiki nasib keluarganya, Caroline menerima pinangan dari anggota parlemen Tory atau parlemen konservatif di Guildford saat itu yang bernama George Norton.

Selama mengarungi biduk rumah tangga, Caroline mengalami kekerasan.

Baca Juga: Kisah Pengemis Tajir! Pagi Penampilan Dekil, Malamnya Berbisnis Pakai Jas dan Pimpin Rapat

Kemudian, dia menemukan hiburan lewat tulisan.

Beberapa karya puisinya diterbitkan oleh The Sorrows of Rosalie (1829) dan 'The Undying One' (1830).

Berkat hal tersebut, Caroline diangkat sebagai editor 'La Belle Assemblée' dan 'Court Magazine' dan dia pun akhirnya memiliki kebebasan finansial.

Tahun 1836, Caroline pun akhirnya meninggalkan suaminya.

Baca Juga: Perjalanan Cinta Ahok dan Veronica, dari Bertemu di Gereja hingga Berujung Pada Gugatan Perceraian

Sebelumnya, Caroline diisukan dekat dengan sekertaris rumah tangga dan calon perdana menteri Lord Melbourne.

Menyadari hal ini, George pun menuduh Caroline melakukan perzinahan dan melarang Caroline untuk bertemu anak-anaknya.

Tuduhan itu adalah tuduhan palsu yang segera dicabut oleh pengadilan karena kurangnya bukti.

Namun dalam kemarahannya, George melarang Caroline keluar dari rumah dan melarang dia bertemu anak-anaknya.

Baca Juga: Soal Dugaan Gugatan Cerai Ahok, Begini Tanggapan Pengacara

Caroline mulai menyadari ia tidak berdaya di mata hukum.

Di era awal zaman Victoria, seorang wanita yang memasuki pernikahan hampir tidak memiliki hak.

Apa yang dimilikinya otomatis menjadi milik suaminya.

Bahkan jika dia memiliki tanah sendiri, suaminya menerima penghasilan darinya.

Baca Juga: Dikabarkan Gugat Cerai Sang Istri, Begini Isi Surat Cinta Terakhir Ahok untuk Veronica

Caroline pernah dua kali meninggalkan suaminya.

Namun, dia kembali lagi demi anak-anaknya.

Menurut hukum saat itu, jika seorang wanita meninggalkan rumah untuk berlindung di tempat lain, seperti yang telah dua kali dilakukan Caroline, suaminya bisa mengurungnya tanpa perlu perintah pengadilan.

Bahkan, hukum mengatakan anak-anaknya pun bukan miliknya.

Baca Juga: 4 Tanggapan Terkait Ahok Gugat Cerai Veronica, dari Teman Dekat hingga Rival Politik

Caroline adalah seorang pejuang dan dia mengerti satu-satunya cara untuk memperbaiki situasinya adalah dengan memulai sebuah kampanye untuk mengubah undang-undang tersebut.

Dia sudah menjadi penulis berprestasi dan mapan dengan relasi politiknya.

Dia menghasilkan serangkaian pamflet politik untuk mencerahkan masyarakat tentang keadaan buruk yang dialami kaum ibu dan untuk mempengaruhi anggota parlemen guna mendukung perubahan undang-undang.

Caroline pun melakukan berbagai protes dengan menulis pamflet untuk memperjuangkan kedudukan kaum wanita dalam pernikahan.

Baca Juga: Kerajaan Bisnis Ahok yang Dibangun Bersama Veronica Tan, dari Kontraktor Pertambangan hingga Hotel

Upanyanya tersebut akhirnya berperan terhadap rancangan undang-undang tetang hak asuh anak tahun 1839.

George Norton selalu berusaha menghentikan tulisan Caroline.

Namun, Caroline tidak menyerah.

Dia bahkan menulis surat kepada Ratu Victoria untuk meminta dukungan bagi wanita setelah perceraian.

Baca Juga: Tulisan Ahok Nanti Kamu Tahu Apa yang Saya Kerjakan, Mendadak Ramai Diperbincangkan Netizen

Upanya Caroline ini akhirnya berpengaruh dalam Undang-Undang Perkawinan dan Perceraian tahun 1857.

Tulisan Caroline ini juga menyurakan perlawanan terhadap praktik memperkerjakan anak di bawah umur yang berjudul 'Voice from the Factories' (1836).

Dia juga menerbitkan sebuah novel otobiografi, 'Stuart Dunleath' (1851).

Caroline meninggal pada tanggal 15 Juni tahun 1877 dan beberapa bulan sebelum kematiannya, dia menikah dengan Stirling Maxwell, seorang teman yang dikenalnya selama 25 tahun.

Berita ini telah dimuat di Kompas.com dengan judul Inilah Wanita Pertama yang Menggugat Perceraian

Sumber: Kompas.com
Tags:
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)InggrisKasus PerceraianPerceraian
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved