Jokowi Pertanyakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang Lamban
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 5,05 persen tahun lalu, lebih rendah dari target 5,2 persen dalam APBN 2017.
Penulis: Dian Naren
Editor: Dian Naren
TRIBUNWOW.COM - Jokowi yang beberapa waktu silam mendapat pujian dari berbagai organisasi internasional atas upayanya dalam memperbaiki ekonomi, kini sedang memikirkan alasan di balik pertumbuhan yang menurutnya lamban.
Selain itu, Indonesia juga menerima status investment grade dari semua lembaga pemeringkat global.
Bank Dunia juga telah meningkatkan peringkat Indonesia dalam kategori kemudahan dalam melakukan bisnis (EODB) dari peringkat 140 menjadi 72 pada tahun 2014.
BACA Peta Politik Pilgub Jabar, Ini 4 Pasang Bakal Cagub dan Cawagub
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memecahkan rekornya beberapa kali di tahun 2017, meningkat 19,99 persen menjadi 6.355,66.
Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 5,05 persen tahun lalu, lebih rendah dari target 5,2 persen yang ditetapkan dalam APBN 2017.
Hal ini membuat Jokowi berpikir, "Rasio EODB Indonesia melonjak, indeks pasar saham melonjak, inflasi rendah, anggaran negara aman dan peringkat menjadi lebih baik, semuanya baik, apa yang harus kita lakukan?" katanya di depan menteri saat rapat kabinet di Istana Negara di Jakarta dilansir dari Jakarta Post, Minggu (7/1/2018).
BACA JUGA PDIP Umumkan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur di 6 Wilayah
"Saya membandingkan kondisi Indonesia dengan orang sakit yang tidak memiliki gejala - kadar kolesterolnya baik, tidak ada masalah jantung dan paru-paru bagus," kata Jokowi mengutarakan perumpamaan.
Dia kemudian menginstruksikan para menteri untuk mencari tahu apa masalahnya agar Indonesia dapat tumbuh lebih cepat.
Jokowi berjanji pada saat kampanye kepresidenan 2014 silam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 7 persen. (TribunWow/Dian Naren)