Ukir Sejarah Baru, Kapan Gianluigi Buffon Akan Berhenti? Ini Pengakuannya!
Hal itu membuat dirinya sadar telah membawa tiga generasi dalam sepak bola untuk bermain di Liga Champions.
Penulis: Claudia Noventa
Editor: Tinwarotul Fatonah
TRIBUNWOW.COM - Juventus meraih hasil bagus ketika bertandang ke kandang Monaco pada leg pertama babak semifinal Liga Champions.
Skor 2-0 atas Monaco berhasil dibawa pulang oleh Juventus dari Stade Louis II.
Selain kemenangan Juve, pertandingan itu menjadi catatan sejarah baru bagi kapten mereka, Gianluigi Buffon.
Pertandingan tersebut adalah pertandingan ke-100 Buffon dalam Liga Champions.
Rekor itu menyamai rekor yang dipegang oleh Paolo Maldini dengan tim yang sama.
Total 621 menit telah dilalui Buffon tanpa kemasukan gol di kompetisi tertinggi kasta Eropa itu.
• Gonzalo Higuain Jadi Pahlawan Juventus, Massimiliano Allegri Berikan Pujian kepada Gianluigi Buffon
Hal itu membuat dirinya sadar telah membawa tiga generasi dalam sepak bola untuk bermain di Liga Champions.
"Suatu hari, aku tahu bahwa aku berhasil menghubungkan hampir tiga generasi. Dulu akun bermain dengan para pemain yang lahir di tahun 1950-an dan 1960-an, lalu kini aku bermain melawan mereka yang lahir setelah tahun 2000. Ini adalah rangkaian waktu yang sangat lama," ucap Buffon seperti dikutip Mirror.co.uk, Rabu (3/5/2017).
Meski begitu dirinya tetap merasa belum cukup untuk menghentikan kariernya sebagai pemain sepak bola profesional.
Buffon mengatakan tetap ingin membawa dirinya untuk bermain di lapangan selama ia masih mampu memenangkan gelar.
Padahal usianya saat ini sudah menginjak 39 tahun, tentu itu bukan lagi usia yang muda bagi pesepak bola.
Namun tak dapat dipungkiri, kemampuan Buffon dalam menghalau bola semakin baik setiap harinya mengikuti dengan pertambahan usianya.
"Aku sudah bertanya pada diriku selama bertahun-tahun, apa yang membuatku ingin tetap bermain," ungkap Buffon.
"Jika aku sudah memenangkan Liga Champions mungkin aku akan berhenti. Faktanya, aku masih ingin memenangkan itu, mendorong diriku," lanjut pemain 39 tahun itu.
Buffon memang belum sekali pun mengangkat trofi Liga Champions bersama tim yang sudah 16 tahun dibelanya itu.
Selama ini Juve hanya mampu finish sebagai runner up Liga Champions pada 2002/2003 dan 2014/2015.
Kini kemenangannya di leg pertama semifinal Liga Champions atas Monaco membuat harapannya untuk lolos ke final dan mengangkat trofi semakin besar.
"Disamping menang atau kalah, aku suka bermain di Liga Champions. Itu membuat sesuatu yang terbaik dari diriku keluar," ujar pemain Italia itu.
"Itu mungkin sulit untuk dipercaya, tapi untukku bermain di final Liga Champions akan memberiku banyak tekanan terberat yang harus dilalui. Aku terlahir untuk bermain jenis permainan seperti itu," tambah Buffon.
Kekalahan tak akan membuatnya menghentikan kariernya, sebanyak 1000 pertandingan telah dia lewati.
Tentu, membuat kesalahan, tetap bergerak maju dan bangkit terus dilakukannya.
• Chelsea Kembali Tampil di Liga Champions, Liverpool Butuh 9 Poin
Menurut mantan pemain Parma itu semakin banyak seorang kiper melakukan kesalahan itu akan membuatnya semakin menjadi baik.
"Kamu akan tahu betapa bagusnya seorang penjaga gawang setelah dirinya melakukan kesalahan dan dipenuhi dengan penyesalan dan keraguan," terangnya.
Selama kakinya masih bisa berlari dan tangannya masih bisa menangkis serangan-serangan lawan dirinya akan terus berjuang memenangkan banyak gelar.
Buffon mengaku dirinya akan terus melakukan yang terbaik di level tertinggi permainannya.
Dirinya ingin melihat orang-orang bersedih ketika suatu hari ini dirinya harus menggantungkan sarung tangannya.
Pemain yang telah memenangkan lebih dari sepuluh kali penghargaan Serie A Goalkeeper of the Year Award itu mengungkapkan dirinya akan terus menunjukan permainan terbaiknya meskipun umurnya tak lagi muda.
"Dalam setiap pertandingan aku ingin menunjukan bahwa aku pantas untuk bermain pada level ini meski di umurku sekarang," ujar Buffon seperti dikutip Dailymail.co.uk, Kamis (4/5/2017).
"Aku selalu bekerja keras setiap hari untuk mencapai tujuan ini. Ketika nanti aku berhenti, aku ingin orang menjadi sedih," jelas pemain bernomor punggung 1 itu.
"Aku tidak tahu apakah mereka akan melakukannya atau tidak, tapi bermain dalam tim seperti ini pasti membantu. Yang penting adalah selalu siap ketika tim membutuhkanku. Selama aku bisa melakukan itu, aku menganggap diriku sudah puas dan bahagia," ucap ayah dari tiga orang anak laki-laki itu.
Bahkan kemampuan luar biasa Buffon di lapangan juga diakui oleh pelatih Juventus Massimiliano Allegri.
Allegri bahkan menegaskan bahwa Buffon adalah penjaga gawang terbaik di dunia.
"Dia masih Nomor 1 di dunia. Dia selalu menentukan di pertandingan-pertandingan besar. Gigi (Buffon) begitu sempurna," puji Allegri seperti dikutip Nydailynews.com.
Perjuangan Juventus untuk melangkah ke final Liga Champions belum usai.
Pada 11 Mei mendatang mereka masih harus menghadapi misi pembalasan dendam Monaco.
Di depan pendukungnya, Juve harus bisa memetik kesuksesan lagi untuk memastikan diri melangkah mulus ke final Liga Champions. (TribunWow.com/Claudia N)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/gianluigi-buffon_20170505_102743.jpg)