Cerita Tentang Mbah Gotho, Pria Tertua di Dunia Asal Sragen yang Sudah Sedia Nisan Sejak Lama
Manusia tertua di dunia ternyata ada di Sragen, Jawa Tengah. Ia adalah Suparman Sodimedjo alias Mbah Gotho.
Penulis: Dhika Intan Nurrofi Atmaja
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
TRIBUNWOW.COM - Manusia tertua di dunia ternyata ada di Sragen, Jawa Tengah.
Ia adalah Suparman Sodimedjo alias Mbah Gotho.
Minggu (30/4/2017) petang kemarin, pria asal Desa Cemeng, Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah ini tutup usia.
Wanita Tertua di Dunia Telah Meninggal pada Usia 117 Tahun, Begini Kisah Hidupnya!
Mbah Gotho tercatat lahir pada 31 Desember 1870 dan meninggal di usia 146 tahun.
Ia meninggal lantaran sakit tua.
Fakta tentang Pramugari Tertua Ini Bikin Tercengang

Sebelumnya Mbah Gotho sudah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Sragen selama lebih dari enam hari.
Berdasarkan diagnosa dokter, pria tersebut mengalami kekurangan cairan lantaran enggan makan dan minum beberapa hari terakhir.
Mbah Gotho memiliki lima anak dari empat istri.
Semuanya telah lebih dulu meninggalkannya.
"Kabeh anakku lima, seko bojo papat nek putuku, mbuh ra iso diitung. Bojo ro anakku wis ora ono kabeh. (Semuanya anakku lima, dari empat istri. Kalau cucu, tidak tahu, tidak bisa dihitung)," kata Mbah Gotho saat ditemui Kompas.com, Senin (29/8/2016).
Di sisa hidupnya, Mbah Gotho tinggal bersama cucunya, Suryanto (46).
Ia juga dikenal sebagai pribadi yang baik.
Tak cuma itu, Mbah Gotho ternyata memiliki hobi unik yakni berenang dan makan es krim hingga usia senjanya.
Dihimpun Tribunwow.com, berikut fakta tentang manusia tertua di dunia itu.
1. Gemar makan es krim dan hisap tembakau
Di usianya yang senja, Mbah Gotho tentu sudah tak memiliki gigi.
Namun, keadaan itu tak menyurutkan niatnya untuk menikmati makanan kesukaan.
Makanan itu adalah es krim.
Ya, berbeda dari kebanyakan orang tua, semasa masih hidup Mbah Gotho justru gemar makan es krim.
"Tidak tahu awalnya kok jadi suka es krim, meski giginya sudah tanggal semua, namun keliatannya si Mbah tidak masalah," kata Suparyanto.
Tak cuma es krim, ia juga masih gemar menghisap tembakau di sela-sela aktivitasnya.
"Suka sekali. Suka makan es krim dan juga mengisap tembakau," kata Suparyanto, cucu Mbah Gotho, Senin (29/8/2016).
2. Jago berenang dan menangkap ikan
Berdasaran penuturan sang cucu, Mbah Gotho saat muda gemar berolahraga renang.
Tak cuma itu, ia juga mahir menangkap ikan meski tanpa bantuan alat apapun.
"Dulu, katanya orang sepuh di desa, Mbah Gotho suka berenang dan mencari ikan di sungai, bahkan menangkap ikan tanpa bantuan alat," kata Suryanto.
Beberapa tahun belakangan Mbah Gotho diketahui masih sering mencari rumput di ladang.
"Dulu masih kerja cari rumput, cari kayu, tetapi sekarang kebanyakan di rumah saja," kata tetangga Mbah Gotho, Margiyanti.
3. Sudah siapkan nisan sejak lama
Bisa bertahan hingga usia lebih dari 100 tahun rupanya tak membuat Mbah Gotho tenang.
Pasalnya, setiap kali mendapat berita duka tetangganya meninggal, pria ini justru resah.
Ia menanyakan kapan bisa bertemu dengan Sang Khalik.
"Saat ada lelayu tetangga dekat rumahnya, Mbah Gotho selalu bertanya, 'Kok tidak saya duluan?'" kata Srianto, Lurah Desa Cemeng, Senin (29/8/2016).
Lebih lanjut, Mbah Gotho rupanya sudah sejak lama mempersiapkan 'rumah terakhirnya'.
Ia sudah membeli nisan sejak tahun 1993.

Pada nisan tersebut, tertera nama Sidomejo Sedo.
"Sudah lama minta dibelikan nisan, buat jaga-jaga katanya," kata cucunya, Suryanto.
4. Resep panjang umur ala Mbah Gotho
Dikaruniai umur panjang, Mbah Gotho rupanya tak neko-neko.
Saat ditanya soal rahasianya bisa bertahan hingga saat ini, pria tersebut mengatakan 'ikhlas' adalah kunci utama.
"Tetangga atau tamu yang datang sering tanya kepada Mbah, 'Resep panjang umur apa?'"
"Mbah Gotho selalu menjawab, 'Ikhlas. Panjang umur tersebut adalah mukjizat dari Yang Kuasa'," kata Suryanto.
5. Permintaan terakhir sebelum meninggal
Tak macam-macam, Mbah Gotho hanya berpesan jenazahnya agar bisa dirawat dengan baik saat dirinya meninggal.
Ia ingin cepat dimandikan, didandani, memakai jas lengkap dengan sepatu lalu ditidurkan di dalam peti.
Jasad Mbah Gotho dikebumikan pada Senin (1/5/2017) pukul 11.00 WIB.
"Masyarakat setempat, perangkat desa maupun kecamatan ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Mbah Gotho," terang Camat Sambungmacan, Joko Suratno, sebagaimana dikutip dari TribunSolo. (Tribunwow.com/Dhika Intan)