Pilpres 2019

Ma'ruf Amin: Kalau Jadi Wakil Presiden Berarti Kita Berhijrah dari Jalur Kultural ke Struktural

KH Ma'ruf Amin mengungkapkan bahwa perubahan dirinya dari awalnya yang menjadi ketua MUI kemudian menjadi cawapres merupakan sebuah proses hijrah.

Ma'ruf Amin: Kalau Jadi Wakil Presiden Berarti Kita Berhijrah dari Jalur Kultural ke Struktural
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Maruf Amin, cawapres nomor urut 1 

TRIBUNWOW.COM - Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin, mengungkapkan bahwa perubahan status yang awalnya menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian menjadi cawapres merupakan sebuah proses hijrah.

Pernyataan tersebut diungkap Ma'ruf saat tengah menjadi narasumber dalam program acara Special Report iNews 'Eksklusif KH Ma'ruf Amin yang tayang, pada Senin (11/2/2019).

Awalnya, Ma'ruf Amin ditanya alasannya mencalonkan diri sebagai wakil presiden, padahal dirinya pernah mengungkapkan lebih nyaman menjabat sebagai Ketua MUI.

"Itu istilahnya saya berjuang di jalur kultural dan kalau jadi wakil presiden itu berarti kita berhijrah dari jalur kultural ke jalur struktural," ungkap Ma'ruf Amin.

"Tetapi ini, yang ingin saya persembahkan, sesuatu yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang," tutur Maruf menerangkan.

Singgung Ada Pesan dari Maruf Amin untuk Kota Solo, Wali Kota Solo: Siap Menangkan 80 Persen

Ma'ruf juga memberikan tanggapannya terkait banyak pihak yang menjadikan topik sentimen agama sebagai bahan komoditi politik pada pilkada 2017 lalu.

"Seperti sudah menjadi kesepakatan, kita semua supaya tidak menjadikan agama itu sebagai komoditi politik. Tetapi agama itu harus dijadikan sebagai penuntun kita, pemandu dalam berpolitik."

"Artinya supaya kita itu melakukan politik itu, politik yang beretika, berakhlakul karimah, politik santunan, sesuai dengan tuntunan agama," lanjutnya.

KH Maruf Amin
KH Maruf Amin (Imanuel Nicolas Manafe/Tribunnews.com)

Ma'ruf mengingatkan bahwasanya seharusnya agama digunakan sebagai pemandu dalam menentukan sikap, bukan sebagai bahan perdebatan.

"Jadi jangan di balik. Jangan agama dijadikan alat politik, tetapi agama itu dijadikan pemandu di dalam kita berpolitik."

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Laila Zakiyya Khairunnisa
Editor: Claudia Noventa
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved