Gejolak Rupiah

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Perdagangan sampai Akhir Tahun Mencapai 5 Miliar Dolar AS

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksi defisit neraca perdagangan mencapai 5 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Perdagangan sampai Akhir Tahun Mencapai 5 Miliar Dolar AS
Tribunnews.com
Ilustrasi impor 

TRIBUNWOW.COM - Defisit neraca perdagangan dinilai akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Minggu (16/9/2018), Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksi defisit neraca perdagangan mencapai 5 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Angka ini berbanding terbalik dengan tahun 2017 dimana neraca perdagangan surplus hingga 11,8 miliar dolar AS.

Perang dagang antara China dengan AS memberikan dampak negatif bagi neraca perdagangan Indonesia.

Ronnie Higuchi Rusli Sebut Kebijakan Impor Beras Pemerintah Mengundang Kritik yang Berujung Bully

Hal ini karena China terus melempar produksinya ke Indonesia setelah produknya dihambar masuk ke AS.

Total impor yang masuk ke Indonesia dari China naik hinga 32 persen dari bulan Januari hingga Juli 2018.

Nilai impor dari China mencapai 24,8 miliar dolar AS atau sekitar 27,3 persen dari total impor non migas.

"Sebagai pasar yang besar di ASEAN dengan 260 juta penduduk, Indonesia adalah sasaran empuk dari ekspor negara lain," ujar Bhima.

Indonesia Disebut Belum Siap untuk Tak Impor Beras, Gerindra: Anda Turun ke Lapangan Mana?

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia dan pelemahan kurs rupiah membuat impor migas semakin melebar.

Bhima menyebut tren kenaikan impor akan mencapai puncaknya di bulan Oktober hingga November 2018.

Sementara itu, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksi defisit neraca perdagangan pada Agustus 2018 mencapai 1,08 miliar dolar AS.

David memperkirakan ekspor tumbuh 7,5 persen year on year (yoy), sedangkan impor tumbuh 29,2 yoy.

Sri Mulyani Sebut Pelemahan Impor Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi, Rizal Ramli Beri Tanggapan

"Impor yang masih naik tinggi bahan baku. Barang modal tren menurun. Dan barang konsumsi masih tinggi tapi tren ke depan menurun," ujar David. (TribunWow.com/ Qurrota Ayun)

Ikuti kami di
Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Fachri Sakti Nugroho
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help