Terkini Daerah

Fakta-fakta Bayi Bermata Satu di Mandailing Natal, Kejadian ke-7 di Dunia hingga Tanggapan Para Ahli

Bayi perempuan bermata satu yang lahir di Panyabungan, Mandailing Natal pada Kamis (13/9/2018) membuat masyarakat geger.

Fakta-fakta Bayi Bermata Satu di Mandailing Natal, Kejadian ke-7 di Dunia hingga Tanggapan Para Ahli
www.infospesial.net
Ilustrasi bayi. 

TRIBUNWOW.COM - Bayi perempuan bermata satu yang lahir di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada Kamis (13/9/2018) membuat masyarakat geger.

Berikut fakta-fakta mengenai hal tersebut yang TribunWow.com rangkum dari TribunMedan.

1. Bermata Satu dan Tidak Memiliki Hidung

Bayi perempuan ini lahir secara sesar di RSU Panyabungan.

Selain bermata satu, rupanya bayi tersebut juga tidak memiliki hidung.

Hal tersebut pun mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal, Syarifuddin Nasution.

"Benar, tadi siang sudah kami lihat. Kondisinya sangat memprihatinkan," ujarnya.

Sang ibu bayi, Surianti dan suaminya pun mengaku syok melihat kondisi putri mereka.

Sejumlah Tokoh Kritik Koalisi Prabowo-Sandiaga usai Usulan Debat Bahasa Inggris di Pilpres 2019

Bayi perempuan itu sendiri merupakan anak kelima dari pasangan ini.

Sang ayah diketahui merupakan seorang pekerja tambang.

"Orang tuanya masih sangat syok. Mereka juga kurang koperatif dan cenderung menutup diri," imbuh Syarifuddin.

2. Kejadian Ketujuh di Dunia

Syarifuddin mengatakan jika kejadian langka ini merupakan yang ketujuh di dunia.

Terakhir, kejadian serupa pernah terjadi di Mesir, di mana sang bayi meninggal beberapa jam setelah dilahirkan.

"Ini kejadian yang ketujuh. Yang terakhir di Mesir dan meninggal beberapa jam kemudian. Kalau kata dokter bayi, bayi perempuan itu tidak akan bertahan lama hidup. Kalau yang di Mesir meninggal lima jam setelah dilahirkan," ujar Syarifuddin.

Sementara bayi yang lahir di Mandailing Natal ini lahir dengan berat badan normal.

Namun ia memiliki denyut jantung yang lemah dan tidak menangis saat dilahirkan.

"Lahirnya sesar, tapi tidak prematur. Beratnya 2,4 kilogram. Waktu lahir juga tidak bagus, bayinya tidak menangis dan tidak ada gerakan. Denyut jantungnya juga di bawah seratus. Jadi kondisinya sangat parah," ungkap Syarifuddin.

Di Indonesia, kejadian serupa juga pernah juga terjadi di pedalaman Papua Indonesia, tepatnya di di Pustu Avona, Teluk Etna, Kaimana, Papua Barat.

Gerindra Sebut Prabowo Dikenal sebagai Tukang Pijat Gus Dur, Ketua Progres 98 Beri Tanggapan

3. Penyebab

Lebih lanjut, Syarifuddin mengatakan jika dokter spesialis yang datang bersamanya sempat mengutarakan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari kondisi langka sang bayi.

Di antaranya adalah obat-obatan yang kemungkinan dikonsumsi si ibu, hingga virus.

"Kalau kata dokter spesialis bayi yang tadi melihat bersama kami, ada beberapa kemungkinan penyebab. Pertama bisa jadi karena obat-obat yang dulu dikonsumsi si ibu, kemudian bisa juga karena virus," tuturnya.

4. Pendapat Ahli

Para ahli pun menyebut kondisi seperti ini sebagai Cyclopia.

Dikutip dari Mirror.co.uk 7 Oktober 2015, cyclopia terjadi ketika proses pembentukan embrio kedua mata tidak bisa terpisah sehingga bergabung saat lahir.

"Paparan radiasi dalam rahim atau kombinasi obat-obatan yang berbeda yang dikonsumsi selama kehamilan bisa menjadi pemicunya," ujar Dr Ahmed Badruddin.

Menurutnya, bayi yang lahir dengan kondisi seperti ini sebagian besar memiliki cacat jantung sehingga kemungkinan bertahan hanya hitungan hari saja.

Hal senada disampaikan oleh Peneliti LIPI Anang Setiawan Achmadi yang mengatakan jika bayi dengan syndrome biasanya tidak akan bertahan lama.

“Karena beberapa bagian tubuhnya tidak sempurna, biasanya fungsi beberapa organ tubuh jadi tidak bisa berjalan normal. Dia akan cepat mati. Tidak akan bertahan," kata dia.

Ia mengungkapkan, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan bayi lahir dengan kondisi seperti itu.

Seperti si ibu pernah terpapar radiasi saat hamil, adapula faktor genetik.

“Secara herediter faktor resesifnya yang muncul,” ujar Anang.

Faktor masuknya zat kimia tertentu pada ibu hamil juga bisa menyebabkan cyclops syndrome pada sang bayi.

“Kalau di manusia bisa saja karena pengaruh obat yang berlebihan. Misalnya obat untuk kehamilan yang bersifat kontradiksi," sambung Anang.

Ia menambahkan, bisa juga penyebabnya adalah pengalaman traumatis saat masa kehamilan.

“Jadi sebenarnya kompleks,” kata dia.

Diinformasikan National Geographics, kelainan genetik biasanya dsebut-sebut sebagai penyebab cyclopia.

Meski demikian cyclopia juga dapat disebabkan oleh racun yang tertelan oleh ibu selama kehamilan.

Andi Arief Sebut Hasil Ijtima Ulama Jauh Lebih Kuat daripada Dukungan Para Gubernur ke Jokowi

5. Meninggal 8 Jam setelah Dilahirkan

Bayi perempuan yang lahir di Mandailing Natal ini dilaporkan meninggal 8 jam setelah dilahirkan.

"Benar, barusan saja meninggal. Memang dari awal kita sudah prediksi umur bayi ini tidak lama, karena kondisinya sangat buruk," tutur Syarifuddin.

Kepala Dinas Kesetahan Pemkab Mandailing Natal itu mengungkapkan hal ini sudah diprediksi oleh pihak dokter usai melihat kelainan pada bayi.

"Kita sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain," ungkap Syarifuddin. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

Ikuti kami di
Penulis: Lailatun Niqmah
Editor: Mohamad Yoenus
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved