7 Negara Berkembang yang Terancam Alami Krisis Nilai Tukar, Indonesia Tak Termasuk

Tujuh negara berkembang di dunia berisiko mengalami krisis nilai tukar,namun Indonesia di posisi aman

7 Negara Berkembang yang Terancam Alami Krisis Nilai Tukar, Indonesia Tak Termasuk
Harian Warta Kota/Henry Lopulalan
Ilustrasi - Penukaran uang dolar ke rupiah. 

TRIBUNWOW.COM - Tujuh negara berkembang di dunia berisiko mengalami krisis nilai tukar, menurut analisis terbaru dari Nomura Holdings Inc.

Dilansir TribunWow.com dari The Star Online, Senin (10/9/2018), ketujuh negara itu adalah Sri Lanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki dan Ukraina.

Lima dari tujuh negara yang disebutkan sudah dalam kondisi krisis nilai tukar dan harus dibantu oleh program yang dijalankan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Sehingga, yang tersisa hanya Afrika Selatan dan Pakistan yang masih berada di zona kuning.

Jokowi Targetkan Transaksi Perdagangan Indonesia-Korsel Capai 30 Miliar Dolar AS di Tahun 2022

Pada saat yang sama, analis Robert Subbaraman, kepala ekonomi pasar negara berkembang yang berbasis di Singapura, mengungkap delapan negara dengan risiko krisis moneter terendah.

Negara tersebut diantaranya Indonesia, Brasil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia dan Thailand.

Mereka mencatat ini adalah hasil yang penting.

"Karena investor lebih fokus pada risiko ekonomi negara-negara berkembang, jadi penting untuk tidak menyamakan semua negara berkembang sebagai satu kelompok homogen; Damocles menyoroti daftar panjang negara-negara dengan risiko krisis moneter sangat rendah," ungkap mereka.

India Alami Krisis Keuangan, Nilai Tukar Rupee terhadap Dolar AS Tembus Angka Terburuknya

Temuan Nomura didasarkan pada model peringatan awal krisis yang disebut Damocles.

Model ini digunakan untuk mengidentifikasi krisis nilai tukar di 30 negara berkembang.

Model ini mengkaji berbagai faktor termasuk cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga, dan penutupan impor.

Menurut para analis, Damocles berhasil memperkirakan dua pertiga dari 54 krisis moneter negara berkembang sejak tahun 1996, hingga 12 bulan di depan.

"Hasil yang kami capai sangat menggembirakan, tetapi mengingat keterbatasan yang melekat pada sistem peringatan awal krisis,  akan sangat bodoh untuk membuat klaim berlebihan," katanya mereka. (TribunWow.com/Ekarista R.P)

Ikuti kami di
Penulis: Ekarista Rahmawati P
Editor: Claudia Noventa
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved