Fahri Hamzah: Kalau Saya Jadi Presiden Masalah Selesai

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah turut menanggapi wacana menjadikan dirinya presiden di Pilpres 2019.

Fahri Hamzah: Kalau Saya Jadi Presiden Masalah Selesai
Kompas.com
Fahri Hamzah 

Saya sekarang ingin memperdengarkan suara nelayan kepada ibu.

Nelayan tambah susah bu, hidup makin sengsara, melaut lebih susah dan mereka menangis.

Lalu dengan segenap popularitas itu ibu berjuang untuk siapa?

Rusdi bukan siapa2 bu, dia nelayan kecil.

Tapi, gebrakan ibu tentu bikin heboh. Banyak orang terkesima.
“Tenggelamkan!” Itu adalah sempurna memenuhi hasrat untuk mengukur kinerja dengan hancurkan! dan habisi! Tangkap! Dan bakar!

Dan ibu dipuji termasuk oleh presiden yang gembira menyaksikan itu dengan kasat mata.

Pertama, kesalahan ibu adalah bikin nelayan sengsara.

Padahal. Tugas ibu nomor 1 di posisi itu bukan yang lainnya tetapi bikin nelayan hidup bahagia.

Ibu boleh punya alasan konservasi, dll sampai ibu dipuji dunia. Seperti sudah ibu nikmati. Hebatlah.

Tetapi ibu perlu tau.

Karena kaum kapitalis global maunya kita membersihkan laut kita dengan membatasi rakyat kita sendiri setelah mereka kotori laut kita berabad-abad.

Mereka tidak peduli rakyat nelayan tambah miskin. Kemiskinan hanya statistik!

Kedua, tugas ibu bukan menegakkan hukum. Saya sudah baca UU yang sekarang ibu mau ubah.

Memang Gak ada dan tidak boleh. Konsep poros maritim itu bukan menyulap menteri kelautan menjadi penegak hukum.

Kenapa ibu mengambil pekerjaan polisi dan tentara?

Suatu hari, di istana, saya berbincang dengan ibu dan mengeluhkan para beking pencuri ikan.

Orang2 yang ibu sebut termasuk yang dekat dengan pejabat di sekitar rapat kabinet.

Ya itulah persoalannya. Pencuri itu ada bekingnya. Dan pejabatnya masih aktif.

Soal keberanian saya anggap ibu Ok punya lah.

Tapi ini soal kemiskinan rakyat yang ada dalam kenyataan dan dalam statistik.

Ibu ingin konservasi ikan, lalu syarat bagi rakyat untuk menangkap dipersulit padahal rakyat cuman bisa itu karena berabad-abad hidup di situ.

Kalau ikan hanya ditangkap oleh industri besar terus rakyat kecil dilarang menangkap lalu untuk siapa ibu jadi menteri?

Sementara ekspor laut kita juga Turun dan rakyat menangis akibat aparat yang menangkapnya padahal turun temurun sudah begitu.

Entahlah, tapi saya pernah bersinggungan sebentar di KKP sebagai konsultan dan mengerti bahwa nelayan kita Perlu pembela.

Pesisir laut Indonesia dari dulu adakah kantong kemiskinan. Sekarang juga adalah kantong sampah.

Hidup tambah susah dan tidak ada yang membela.

Teori ibu tentang bertambahnya jumlah ikan setelah pertunjukan “ngebom” itu bohong.

Gak usah hitung kepala ikan dilaut yang luasnya 75% bumi dan 75% nusantara.

Hitung jumlah kepala orang miskin aja kita Gak sanggup.

Poros maritim jokowi jadi Gak jelas. Di laut kita binasa.

Maaf bU Susi,
Saya juga seperti ibu Gak suka basa basi.

Banyak yang saya mengerti sebagai anak pesisir tapi ibu lebih tahu.
Hanya kita beda tugas dan beda posisi, tugas ibu eksekutif dan tugas saya legislatif.

Percakapan ini anggaplah sebuah kopi siang. Tks. @susipudjiastuti," tulis Fahri Hamzah.

(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

Ikuti kami di
Penulis: Lailatun Niqmah
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help