Kasus Terorisme

Menurut Pengamat Teroris, Kenekatan Aksi Bom Bunuh Diri Efek dari Kekalahan ISIS di Dunia

Hasibullah Satrawi, pengamat terorisme di Indonesia mengatakan bahwa ISIS sudah kalah dalam organisasi di Dunia sehingga merasa terdesak

Menurut Pengamat Teroris, Kenekatan Aksi Bom Bunuh Diri Efek dari Kekalahan ISIS di Dunia
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Kutuk aksi terorisme 

TRIBUNWOW.COM - Hasibullah Satrawi, pengamat terorisme di Indonesia mengatakan bahwa Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) sudah kalah dalam organisasi di dunia sehingga merasa terdesak.

Pernyataan ini ia sampaikan saat Kabar Petang TV One yang dikutip Tribunwow pada Selasa (22/5/2018).

"Peristiwa ini (bom Surabaya dan Sidoarjo) merupakan reaksi dari perkembangan di tingkat global yang kita tahu ISIS ini mengalami kekalahan dan keterdesakan. Dari awalnya menguasai teritori yang cukup luas di Suriah dan Irak tapi belakangan mereka kehilangan semua itu bahkan organisasinya hancur dan orang-oranganya ditangkepi," kata Hasibullah.

Ia juga menambahkan aksi pelibatan keluarga sebagai bomber dikarenakan kekalahan kelompok ini secara teritori dan organisasi.

TNI Dilibatkan Untuk Memberantas Terorisme, Mahfud MD: itu Menyangkut Keamanan karena Kriminal Berat

Hasibullah Pengamat Terorisme
Hasibullah Pengamat Terorisme (Youtube)

Sementara ideologi untuk memerangi thogud, kafir, dan orang yang tidak sepaham dengan ajaran ini masih kuat dalam mindset anggota ISIS.

Kondisi inilah yang membuat anggota ISIS terdesak secara psikis sehingga mereka melakukan aksi nekat.

"Awalnya mereka melakukan serangan secara terorganisir, tapi karena organisasinya sudah mulai rontok maka dipersilahkan kepada pribadi-pribadi menyerang target yang barang kali ditemukan di tempat ibadah sekalipun," imbuh Hasibullah.

Teman Dekat Pelaku Bom Gereja Surabaya Beberkan Sosok Dita Oeprianto: Punya Benih Teroris sejak SMA

Keterdesakan dari ISIS yang semakin memuncak ini membuat kenekatan melakukan aksi dilakukan oleh satu keluarga.

Sehingga aksi nekat ini berasal dari keterdesakan secara organisasi ISIS tetapi ideologi masih tertanaman kuat pada pribadi anggotanya.

Dita Oeprianto, pelaku teror yang mengajak istri dan empat anaknya melakukan bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya
Dita Oeprianto, pelaku teror yang mengajak istri dan empat anaknya melakukan bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya (Kolase/TribunWow.com)

Sofyan Tsauri Meminta Habib Rizieq Sumpah Mubahalah hingga Amien Rais Ungkap Menteri di Era Soeharto

Sementara itu, dilansir Tribunnews, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai ada pola pengasuhan anak yang salah pada para pelaku bom bunuh diri di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Diketahui, pelaku mengajak keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

Ada pula keluarga yang melancarkan aksinya di Polrestabes Surabaya, namun sang anak berhasil selamat dari percobaan bunuh diri itu.

"Mendoktrin anak-anak dengan paham membenci yang berbeda adalah bentuk pengasuhan yang salah," ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan, di Ashley Hotel, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Selasa (22/5/2018). (Tribunwow/Tiffany Marantika)

Ikuti kami di
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help