Dulu dikenal Kaya dan Memiliki Banyak Pengikut, Bagaimana Nasib Gatot Brajamusti Saat Ini?

Gatot dikenal memiliki kekayaan dari hasil jual beli dan usaha tambang, namun kini ia terjerat beberapa kasus di meja hijau, bagaimanakah nasibnya?

Dulu dikenal Kaya dan Memiliki Banyak Pengikut, Bagaimana Nasib Gatot Brajamusti Saat Ini?
Kompas.com
Gatot Brajamusti dan istrinya Dewi Aminah saat akan menjalani pemeriksaan di Ditres Narkoba Polda NTB, Selasa (18/10/2016).(Kontributor Mataram, Karnia Septia) 

Hal ini diungkapkan oleh MH Thamrin Lubis, Kepala Sekertariat PARFI.

"Begini, saya dengan Aa Gatot kenal dari lima tahun yang lalu (2011). Dulu dia punya tambang batu bara di Muara Teweh, Kalimantan Tengah," ujar MH Thamrin.

Tambang batubara tersebut merupakan usaha yang dibangun Gatot yang bekerjasama dengan Bupati Muara Teweh.

"Dia kerja sama dengan bupati di sana (Muara Teweh). Usaha masih jalan, kami enggak terlalu mengerti. Itu yang saya tahu ya," imbuh M.H Thamrin.

Nasib Gatot kini

Setelah lama berlenggang di panggung hiburan tanah air, Gatot kini terpaksa harus mendekam di balik jeruji besi.

Ia diamankan oleh oleh satuan tugas gabungan kepolisian di Mataran pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 malam.

Ia tertangkap basah oleh pihak kepolisian saat sedang menggelar pesta sabu.

Ironisnya, penangkapan tersebut berlangsung usai dirinya terpilih sebagai Ketua PARFI yang kedua kalinya.

Gatot juga kedapatan menyimpan benda haram tersebut di kamar hotelnya di Mataram.

"Tersangka adalah Ketua Umum Parfi yang baru saja terpilih untuk kedua kalinya dalam kongres di Mataram tanggal 24-28 Agustus 2016," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin, 29 Agustus 2016.

Gatot tertangkap bersama dengan istrinya, Siti Aminah yang turut menggelar pesta sabu.

Saat kamar hotel Gatot digregek, ditemukan sejumlah barang berupa, satu plastik klip berisi sabu, alat pengisap sabu, pipet kaca, sedotan, korek gas, dompet berisi uang dan kartu identitas.

Vonis 8 tahun penjara dan denda 1 miliar

Atas kasus narkoba yang dihadapinya, Gatot mendapat vonis hukuman 8 tahun penjara dan denda 1 miliar oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, NTB, Kamis, 20 April 2017.

Vonis dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Yapi.

Dalam persidangan, hakim menyatakan bahwa Gatot tidak terbukti melakukan tindak pidana dalam dakwaan primer, melainkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana karena telah memiliki dan menguasai narkotika golongan sabu, bukan tanaman.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa, penjara selama delapan tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar. Jika denda tidak dibayar akan diganti kurungan tiga bulan," kata Yapi membacakan putusan.

Putusan ini lebih sedikit dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut Gatot dengan pidana kurungan penjara selama 13 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Dijerat kasus satwa liar dan senjata api

Selain kasus narkoba, Gatot diketahui juga terjerat kasus satwa liar dan senjata api.

Sidang kasus tersebut berlangsung dua hari yang lalu, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2017).

Dalam sidang tersebut, Gatot dijerat dengan tiga dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dakwaan yang dibacakan oleh JPU Hadiman, menyebutkan ada dua dakwaan primer dan satu subsider untuk Gatot.

Dalam dakwaan primer pertama, Gatot didakwa melanggar Pasal 21 Ayat 2 huruf b jo Pasal 40 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Dakwaan primer selanjutnya adalah Gatot didakwa telah melanggar pidana berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang nomor 12/Drt/1951 karena memiliki beberapa senjata api beragam jenis beserta amunisinya.

Terakhir, Gatot juga dianggap tanpa hak menguasai, membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata penikam, senjata pemukul, senjata penusuk. Sehingga ia juga didakwa oleh dakwaan subsider yakni diancam dengan pidana berdasarkan Pasal 2 Ayat 1 Undang-undang nomor 12/Drt/1951.

Satwa liar dan senjata api tersebut ditemukan oleh polisi ketika menggeledah rumah Gatot usai penangkan terkait kasus narkoba.

Saat penggeledahan tersebut, polisi menemukan satwa dilindungi yang diawetkan, yakni offset satu harimau sumatera dan satu burung elang jawa.

Sedangkan senjata api yang ditemukan oleh petugas antara lain adalah, sebuah pistol Browning, sebuah pistol Glock 26, sebuah pistol Walther, sebuah sangkur, 500 amunisi 9 milimeter, 3 kotak amunisi 9 milimeter, dan sekotak amunisi Fiocchi 32 Auto.

Jalani sidang kasus asusila

Setelah kasus hewan satwa dan senjata api, masih terdapat satu kasus yang menimpa Gatot di meja hijau.

Ia harus menghadapi persidangan kasus asusila yang dilakukannya kepada korbannya di padepokan.

Sidang kasus asusila tersebut diselenggarakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/10/2017) siang.

Dalam sidang tersebut, JPU menyebut ada banyak perempuan yang menjadi korban pemerkosaan Gatot.

"Korban banyak," kata Hadiman, Kamis siang dikutip dari Kompas.com.

Namun Hadiman enggan menyebutkan jumlah korban Gatot.

"Kalau pelapornya si CT, yang pelapor lainnya belum ke penyidik. Ya tapi korbannya lebihlah," ujar Hadiman.

Gatot keberatan dan akan siapkan saksi

Dakwaan dari JPU kabarnya dibantah oleh Gatot.

Ia juga mengajukan keberatan atas dakwaan tersebut.

Hal itu disampaikan kuasa hukum Gatot, Novianto Rahmantyo, saat ditemui usai persidangan.

"Tadi kami ini baru saja selesai agenda sidang pertama Aa Gatot untuk perkara yang lain, (perkara) asusila dengan agendanya dakwaan," kata Novianto saat diwawancarai Kompas.com usai sidang.

"Tadi kami di dalam juga sudah mengajukan keberatan terhadap dakwaan yang ada," sambungnya.

Pihaknya menemukan kejanggalan pada berita acara peradilan diawal dengan dakwaan yang dibacakan saat itu.

"Kalau keberatan kan belum pokok perkara, masih berkaitan dengan beberapa poin didakwaan yang tidak sesuai dengan kenyataan," ucap Novianto.

"Pertama soal, sebenarnya ketika kami baca didakwaan itu ada sedikit perbedaan pada waktu BAP dulu diawal kepolisian, dengan yang tertuang di dakwaan tersebut. Karena TKP (tempat kejadian perkara) dan usia dari si CT tidak sesuai," lanjutnya menjelaskan.

Selanjutnya, pihak kuasa hukum akan menyiapkan saksi dan bukti untuk mendukung eksepsi atau nota keberatan atas kasus tindak asusila yang mejerat kliennya tersebut.

"Bukti bukti sih sudah ada semua ya, semua udah kami lengkap bukti, baik keterangan saksi yang meringankan sudah kami persiapkan, tinggal nanti waktunya yang akan menjawab," kata Achmad Rulyansyah saat ditemui Kompas.com usai persidangan.

"Untuk saksi yang meringankan, pasti kami juga ada. Tapi tidak kami sebutkan sekarang kan, nanti pada saat persidangan nanti."

"Kalau eksepsi kami tidak membahas pokok perkara, cuma nanti pada saat agenda pembuktian kami ada saksi, nah di situlah kami baru fight untuk pembuktiannya nanti," ucapnya.

Sidang lanjutan akan digelar pada Selasa, 17 Oktober 2017 mendatang dengan agenda pengajuan eksepsi Gatot.

(TribunWow.com/Fachri Sakti Nugroho)

Ikuti kami di
Penulis: Fachri Sakti Nugroho
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help