Flying Fox Terpanjang di Asia Tenggara Ada di Gunung Kidul, Anak Kekinian Harus Coba Biar Makin Hits

Sementara, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X berharap dengan peresmian obyek wisata baru ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan.

Flying Fox Terpanjang di Asia Tenggara Ada di Gunung Kidul, Anak Kekinian Harus Coba Biar Makin Hits
KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO
Sultan Hamengku Buwono X saat mengunjungi flying fox terpanjang di Asia Tenggara di Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (30/8/2017). 

TRIBUNWOW.COM - Bandara baru internasional di Yogyakarta, tantangan daerah agar wisatawan mau tinggal dan menikmati obyek wisata yang ada.

Untuk menarik wisatawan ke Yogyakarta dan bersaing dengan wilayah lain, di Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, dibangun flying fox yang diklaim terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang lintasan 625 meter yang menuruni perbukitan.

Kepala Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Tugiman, mengatakan, flying fox yang dibangun Desember 2016 dan selesai pada bulan April 2017 dengan panjang 625 meter merupakan salah satu yang terpanjang di Asia Tenggara.

"Menurut data kami ini salah satu dan mungkin yang terpanjang di Asia Tenggara," katanya Rabu (30/8/2017).

Lokasi tersebut dikelola menggunakan bumdes yang dikelola tiga desa yakni Mertelu, Watugajah, dan Tegalrejo. Dengan rata-rata orang yang menaiki 400 orang per bulannya.

"Sudah lumayan karena tidak semua yang datang itu berani naik flying fox. Paling tinggi bulan Juli lalu ada 596 orang," ucapnya.

Sementara, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X berharap dengan peresmian obyek wisata baru ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan.

"Flying fox akan membawa nuansa baru bagi anak muda. Pengelolaan harus dilakukan secara transparan. Selain itu masyarakat harus mendapatkan keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan," kata Sri Sultan HB X di kawasan Flying Fox Green Village Kecamatan Gedangsari.

Ngarso Dalem mengatakan, pemda DIY terus berupaya mengembangkan wisata baru. Apalagi tahun 2019 ada bandara internasional. Obyek dikembangkan satu persatu, agar wisatawan bisa memilih lokasi ideal untuk berwisata.

Pengunjung menjajal flying fox di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Rabu (30/8/2017).
Pengunjung menjajal flying fox di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Rabu (30/8/2017). (ARSIP KABID DESTINASI DINAS PARIWISATA DIY)
"Pengembangan satu persatu tidak hanya sekadar bertahap, tetapi juga pemasaran itu dilakukan dengan harapan makin bervariasi orang memiliki keinginan untuk datang," katanya.
Sultan mengatakan, dengan bandara baru berada di Kulonprogo, yang jaraknya jauh dari Gunungkidul, Sultan berharap tahun 2019 Jalur Jalan lintas Selatan (JJLS) juga selesai. Sehingga wisatawan bisa berkunjung ke sini.

Selain itu, pemerintah yang terus mendorong Borobudur menjadi tantangan tersendiri bagi obyek wisata di Yogyakarta.

"Bandara semakin jauh dari Gunungkidul. Pemerintah mengembangkan kawasan Borobudur. sehingga kita harus kompetisi. Turis melihat Borobudur dari Yogyakarta, atau sebaliknya tamu itu dari Borobudur melihat Yogyakarta," katanya. (Kompas.com / Markus Yuwono)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Bandara Internasional, Tantangan Baru Pariwisata DI Yogyakarta

 
Ikuti kami di
Editor: Wulan Kurnia Putri
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help