Sambut Bulan Ramadan, Kampung Ini Gelar Tradisi Unik! Datang, Yuk!

Kampung Wisata Budaya Langenastran Yogyakarta akan menggelar sebuah acara rutin yang bertajuk "Ruwah Gumbregah 2017".

Sambut Bulan Ramadan, Kampung Ini Gelar Tradisi Unik! Datang, Yuk!
Kampung Wisata Budaya Langenastran
Kampung Wisata Budaya Langenastran, Yogyakarta dalam rekaman beberapa kegiatan. 

TRIBUNWOW.COM - Kampung Wisata Budaya Langenastran Yogyakarta akan menggelar sebuah acara rutin yang bertajuk "Ruwah Gumbregah 2017".

Acara ini digelar untuk menyambut suka cita bulan suci Ramadan 1438 yang akan jatuh dalam hitungan hari.

Menurut penjelasan dari humas Paguyupan Kampung Langenastrana, Dr Y Sri Susilo Se MSi mengatakan bahwa akan digelar lomba memasak.

Berbeda dari lomba memasak pada umunya, kali ini akan digelar lomba memasak makanan apem, kolan, dan ketan.

Menurut Baskoro Sukamto SE, ketiga jenis makanan tersebut memiliki makna khusus.

"Ketiga makanan ini dipercaya memiliki makna khusus. Ketan merupakan lambang kesalahan (khotan), kolak adalah lambang kebenaran (kolado) dan apem sebagai simbol permintaan maaf (ngapura)”. Dengan demikian tradisi Nyadran dengan membuat ketan, kolak dan apem sebagai tradisi yang harus dilestarikan,” jelasnya.

Selain itu, akan digelar juga pameran dan sarasehan Tosan Aji dan Batu Permata Lokal, Jemparingan (panahan tradisional), dan Bazar Produk Kerajinan dan Makanan Tradisional.

Lebih lanjut, menurut Sri Susilo, acara ini digelar karena kampung Kampung Wisata Budaya Langenastran Yogyakarta memiliki potensi wisata yang cukup baik.

Di sana terdapat berbagai macam bangunan kuno, kegiatan seni dan budaya, homestay, warung kuliner, tokoh cenderamata, dan sebagainya.

“Kampung Langenastran & Langenarjan yang terletak di dalam Beteng Keraton Yogyakarta dan di sebelah timur Alun-Alun Kidul memiliki potensi yang layak diangkat untuk mewujudkan kampung ini sebagai destinasi wisata. Potensi termaksud adalah bangunan tradisional kuno atau heritage, jemparingan (panahan tradisional), kegiatan seni dan budaya (tarian tradisional dan karawitan), rumah inap (homestay), warung kuliner, toko batik dan kerajinan dan sebagainya,” ujar Sri Susilo.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Galih Pangestu Jati
Editor: Galih Pangestu Jati
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help